Bulan Ramadhan sudah tiba, kita semua mestinya bergembira. Sebagai
muslim, rasa-rasanya tak ada yang perlu ditanyakan lagi kenapa kita harus
gembira menyambut Ramadhan dan mengisi hari-harinya dengan ibadah. Di edisi
pekan kemarin udah disebutkan panjang lebar mulianya bulan Ramadhan dan
bagaimana nilai pahala yang akan didapat jika kita beramal shalih, serta
wanti-wanti jangan sampai puasa kita hanya mendapatkan lapar dan haus doang.
Masih ingat kan? Kalo udah lupa atau baru baca edisi ini, silakan tengok lagi
deh di website Al-amiin.
Nah, masih ngomongin soal Ramadhan. Pada edisi ini , Al-amiin mau
bahas soal hubungan antara Ramadhan dengan belajar dan sabar. Wah, ini sih
menggabungkan tiga hal ya: Ramadhan, belajar dan sabar. Pastinya bakalan seru
deh karena kita mencoba menelaah hubungan dari ketiganya. Siap-siap ya!
Belajar dari Ramadhan
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-amiin. Umumnya kita
belajar itu dari orang ya, ada gurunya. Tetapi dalam subjudul ini saya menulis,
belajar dari bulan, yakni Ramadhan. Memangnya kita bisa? Itu bergantung
persepsi aja sih, sobat. Toh, kita juga kadang dapat pelajaran dari kesalahan
kita, bisa belajar dari momen ibadah haji, momen Idul Fitri, momen terkait
peristiwa musiman lainnya macam ajang world cup atau tradisi mudik. Nah, yang
dimaksud belajar dari Ramadhan adalah bagaimana kita mengambil hikmah dari
adanya bulan Ramadhan sebagai proses pembelajaran kita dalam kehidupan ini.
Semoga kamu paham ya.
Bulan Ramadhan adalah bulam mulia. Di dalamnya banyak barokah dan
ketika kita beramal shalih akan mendapatkan pahala berlipat ganda selama kita
ikhlas dan benar caranya ketika melaksanakan amal shalih dan ibadah di
dalamnya. Lalu apa makna belajar? Wah, rasa-rasanya kamu semua udah pada tahu
deh makna belajar. Iya kan? Hah, ada yang belum ngeh? Oke deh. Saya jelasin
secara singkat aja ya. Kalo dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), asal
kata belajar itu dari ajar yang bermakna petunjuk yang diberikan kepada orang
supaya diketahui atau diturut. Sementara arti kata belajar adalah berusaha
memperoleh kepandaian atau ilmu. Bisa juga makna belajar adalah berlatih.
Selain itu, masih menurut KBBI, belajar itu bermakna berubah tingkah laku atau
tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Islam juga memandang bahwa belajar itu selain kewajiban juga
memiliki keutamaan. Itu sebabnya, orang yang berilmu tak mungkin bisa begitu
saja pintar tanpa belajar. Maka dalam Islam belajar amat penting dalam Islam.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “…niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Sobat Al-amiin, jika melihat definisinya, ketika kita belajar dari
Ramadhan, maka yang bisa kita pahami adalah bagaimana kita berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu dari Ramadhan. Kita juga bisa mencoba untuk mengubah
tingkah laku kita tersebab oleh pengalaman yang kita dapatkan selama Ramadhan.
Ya, kira-kira begitu deh penjelasannya. Kamu setuju nggak? Kalo nggak, ya kudu
setuju. Lho?
Ramadhan ini ibarat tempat berlatih bagi kita untuk menahan hawa
nafsu. Kalo di luar Ramadhan mata remaja cowok suka jelalatan kalo melihat
cewek, atau kamu yang cewek nggak bisa nahan pandangan nafsu kalo ngeliat
makhluk ganteng dan cool, maka di bulan Ramadhan kamu semua bisa belajar untuk
tidak sembarangan melemparkan pandangan. Kita jadi berhati-hati karena takut
puasa kita sia-sia gara-gara nggak bisa menahan hawa nafsu. Inilah satu
pelajaran yang bisa kita dapatkan dari Ramadhan.
Bagaimana dengan nafsu jasmani? Waduh, di bulan Ramadhan kita
dilarang makan dan minum di siang hari. Itu sebabnya, kita belajar untuk
menahan diri dari makan dan minum yang mungkin biasa kita lakukan sesuka kita
di bulan selain Ramadhan. Bisa jadi apa saja kita jejalkan ke mulut kita saking
nafsunya nggak ketulungan. Tetapi di bulan Ramadhan kita belajar untuk
mengendalikan nafsu makan dengan cara hanya makan di waktu sahur dan berbuka
saja. Itu artinya kita memberi kesempatan kepada pencernaan kita untuk tidak
‘menggerus’ makanan sepanjang hari. Ada waktu istirahat bagi lambung dari kerja
keras menggiling makanan yang masuk. Ini pelajaran berikutnya dari Ramadhan.
Sobat Al-amiin, bulan Ramadhan ini istimewa. Ibadah dan amal
shalih yang kita kerjakan dengan ikhlas dan caranya benar akan diganjar pahala
yang besar. Manfaatkan ‘bulan bonus pahala’ ini, jangan sampe kelewat begitu
saja. Allah telah memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk memperoleh
jalan-jalan yang dapat mengangkat derajat seseorang dan meleburkan dosa-dosanya. Bulan Ramadhan adalah bulan
diturunkannya al-Quran, dibukakannya pintu surga, ditutupnya pintu neraka,
dibelenggunya setan sebagaimana yang Allah terangkan dalam hadits qudsi:
كل
عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
“Setiap amalan anak Adam
baginya sepuluh kebaikan yang semisal dengannya kecuali puasa. Maka
sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala.” (HR
Bukhari)
Nah, ini pelajaran berikutnya. Kita bisa memanfaatkan momen
spesial. Coba, kalo kamu dikasih kesempatan untuk belajar di sekolah secara
gratis, apa kamu mau begitu saja melewatkannya, atau memanfaatkannya?
Rasa-rasanya semua orang kalo dikasih kesempatan emas seperti itu bakalan
memanfaatkannya. Di bulan Ramadhan ini Allah Ta’ala memudahkan kita untuk bisa
beramal shalih dan diberikan pahala yang melimpah. Maka, apa alasan kita tak
memanfaatkannya?
Selain itu, momen Ramadhan ini kita gunakan juga untuk belajar hal
lain. Misalnya, kita harus lebih giat lagi belajar banyak ilmu di sekolah
maupun di pesantren atau di tempat manapun yang ada majelis ilmu. Memang sih,
umumnya di negeri kita kalo awal-awal Ramadhan justru libur sekolah. Di satu
sisi ada bagusnya juga, yakni memberikan kesempatan siswa untuk bisa fokus
menjalankan ibadah shaum Ramadhan di rumah bersama keluarga. Tetapi ada sisi
kurang baiknya juga, yakni justru dijadikan saatnya santai karena terbebas dari
belenggu pelajaran. Namun kamu kudu ati-ati karena bisa menjadi semacam
perangkap yang membuat kamu jadi malas. Misalnya saja, malah main game seharian
sambil ngabuburit. Atau melakukan aktivitas nyantai lainnya yang bikin otak
tumpul. Kalo ini yang terjadi, bahaya Bro en Sis. Mengapa? Karena kita terjebak
dalam rutinitas tanpa manfaat. Waspadalah!
Sabar bersama Ramadhan
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-amiin. Kayaknya kamu
udah pada ngeh deh kalo ngomongin soal sabar. Kamu tahu juga kan arti sabar?
Apa? Nggak tahu? Waduh, berarti kudu dijelasin lagi. Kalo menurut KBBI sih,
sabar itu artinya tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus
asa, tidak lekas patah hati); tabah. Bisa juga berarti tenang; tidak
tergesa-gesa; tidak terburu nafsu. Ini pengertian yang umum kita dapatkan.
Bagaimana menurut Islam? Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari
bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya
adalah “Shobaro”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari
segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Sedangkan dari segi istilah
(hukum syara’-nya), sabar adalah menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa
emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari
perbuatan yang tidak terarah. Menurut Imam al-Ghazali bahwa sabar itu adalah
suatu tegaknya dorongan agama yang telah berhadapan dengan dorongan hawa nafsu.
Nah, dari definisi sabar ini, kita umumnya bisa bersabar di bulan
Ramadhan. Misalnya nih, sabar menunggu bukan puasa. Selama menunggu buka puasa
tentu kita puasa alias menahan diri dari makan dan minum di siang hari, tidak
berkata kotor, menjaga lisan dari ghibah, tidak bertengkar dengan sesama
manusia. Itu semua kita lakukan karena kita sabar menjalani ibadah puasa. Tuh,
keren kan?
Oya, apa aja sih bentuk-bentuk kesabaran itu? Mengutip dari situs
eramuslim.com dijelaskan bahwa para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal;
sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan
sabar menghadapi ujian dari Allah.
Apa itu sabar dalam ketaatan kepada Allah? Sobat, untuk
merealisasikan ketaatan kepada Allah kita membutuhkan kesabaran, karena secara
tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau
dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan manusia sulit untuk sabar.
Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena
bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya,
(malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan
kepada Allah diperlukan beberapa hal. Pertama, dalam kondisi sebelum melakukan
ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran
menghadapi duri-duri riya’. Kedua, kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar
jangan sampai melupakan Allah di tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak
malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya. Ketiga, kondisi ketika
telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang
telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Bagaimana dengan sabar dalam meninggalkan kemaksiatan? Ya,
meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada
kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (ngerumpi),
dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa manusia, suka
pada hal-hal yang buruk dan “menyenangkan”. Umumnya perbuatan maksiat identik
dengan hal-hal yang “menyenangkan” seperti pacaran, seks bebas, berzina, dan
sejenisnya.
Bro en Sis, kita juga kudu sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan
dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun
inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb.
Nah, di bulan Ramadhan kita bisa sabar bersamanya dalam menjalani
ketaatan kepada Allah (melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, shalat lima waktu,
berbakti kepada orang dan bentuk ketaatan lainnya). Bersama Ramadhan, semoga
menjadi momen spesial bagi kita untuk makin sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
(pacaran dihentikan, ngomongin kejelekan orag lain alias ghibah ditinggalkan,
dan bentuk kemaksiatan lainnya). Bersama Ramadhan, adalah juga momen yang tepat
untuk tetap sabar menghadapi ujian dari Allah Ta’ala. Subhanallah!
Sip! Semoga di Ramadhan ini kita bisa belajar dan mengamalkannya
untuk makin moncer ibadahnya, makin giat amal shalihnya, kian taat kepada Allah
Ta’ala, berani tinggalkan maksiat dan tetap sabar menghadapi ujian yang
diberikan Allah Ta’ala. Tetap semangat raih ridho-Nya. Yuk, manfaatkan Ramadhan
untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. [solihin | Twitter @mff_fajri]